Sunday, December 28, 2008

Watchout!!!

Sering kali hal-hal yang sepertinya sudah familiar, terlewat dari pengamatan kita. Begitupun juga dengan kata-kata atau kalimat yang kita gunakan tiap hari, as if everybody knows the expression. Most of the time, we take it for granted … halah toh semua juga pake expression tersebut, so everyone must’ve been familiar with the expression.

Nah, lately kan saya mayan rajin milis2an dengan milis yang berhubungan dengan gadget yang saya pake. Well ... don’t laugh ... I know that I’m not that hi-tech! But, at least sebagai salah satu silent member sambil sedikit-sedikit menyilet, as usual. Terus akhirnya milis ini berkembang ke milis yang anggota nya khusus perempuan dengan environment yang lebih kondusif, gak melulu pamer-pamer gadget dan whatsoever yang itu bapak-bapak punya. The milis berisi banyak perempuan dengan berbagai macam karakter dan background. But still, expressions yang digunakan, in a way, sedikit banyak terbawa dari milis sebelahnya (alias milis yang banyak bapak2nya itu). Seperti pada saat orang-orang terlalu asyik menekuni si gadget, alhasil si pengguna dibilang lagi autis. Someway, somehow, saya juga mengenal istilah ini long before saya menggunakan gadget ini. Seperti beberapa temen saya yang kebetulan profesinya di bidang disain mendisain. Sering kali dia bilang, wes … kalo lagi autis ... jangan harap bisa ganggu! Saya ngeh banget, karena kalau belionya sedang ngedisain dijamin gak inget kanan kiri, lupa ngalor ngidul. Jadi saat si komunitas ini menamakan keasikan menekuni gadget ini disebut autis, saya langsung relate dengan sempurna. Eh lah ndilalah, di suatu hari yang indah ... ada imel masuk di milis bagian ibu-ibunya. Ndilalah ada salah satu jeung anggota baru di sana yang mengungkapkan keberatannya. Kurang lebihnya seperti ini,

Jeungs,

Saya hanya wondering saja, karena begitu banyaknya istilah autis dipergunakan di milis sini dan sebelah, apakah tidak ada istilah lain yang lebih baik untuk mengungkapkan hal tersebut. Saya tidak bermaksud usil or anything, hanya saya tau perjuangan anak-anak penderita autis yang berusaha keluar dari keautisannya. It’s not a joke, karena saya sendiri mempunyai anak yang menderita autistik. Dan merupakan perjuangan berat untuk melawan hal ini baik untuk saya sebagai orang tua dan juga untuk anak saya untuk menjadi lebih normal. Oleh karena itu, saya hanya menekankan bahwa ada baiknya kalau istilah tersebut diganti dengan yang lebih descend, sehingga tidak menyinggung pihak-pihak lain yang bisa saja kurang berkenan.
Dst dst dst ....


JLEB!!! Mungkin pemikiran pembaca-pembaca email dari milis tersebut. Termasuk saya walaupun saya termasuk yang paling jarang menggunakan istilah tersebut, tapiiii ... somebody was offended by the expression used in the milis. Langsung deh bertubi-tubi, jeng2 yang lain email untuk menetralisir suasana, seperti, gak bermaksud untuk menyinggung loh jeunggg, jeng ini orang yang luar biasa lohhh …. Dan macem-macem yang lain. While me? Sama kurang lebihnya, dan saya tambahkan kalau istilah tersebut sudah existed long before milis kita ada dan bahwa istilah tersebut sudah muncul out of the blue dan gak jelas pun asalnya dari mana? Dan furthermore, saya sebutkan juga bahwa istilah lain yang menurut saya cukup HARSH dan seringkali digunakan adalah RACUN (sebagai kata dasar) dan dengan berbagai macam improvisasi kata depan, kata belakang semacem meracun, peracunan, diracun, dll, untuk proses mempengaruhi orang buat pake gadget tersebut. Kasarnya ngomporin lah! Gatau yaa? Saya somehow merasa terganggu sekali dengan istilah tersebut. Entah saya terganggu dengan istilahnya ataukah attitude orang-orang yang kesannya bangga banget kalo abis ngeracun (istilah mereka) their companion, friends, colleagues buat finally memutuskan to dump their old cell-phones or PDAs and change to this device. Hallooo … people have their own priority and needs, tapi … ya sutra lah!

In my humble opinion, sometimes we cannot control what’s going on out there! Kayak hal-hal yang bersifat umum dan sudah terjadi begitu saja dan sudah memasyarakat tanpa kita tau ujung pangkalnya. Misalnya aja seperti keberatan si Jeung A akan istilah AUTIS, ataupun keberatan saya akan istilah RACUN, mungkin memang we have a good reason to object but is it stopable? I don’t think so …. No matter how hard we object, istilah tersebut akan terus dipergunakan dan tak tertutup kemungkinan bakal dimasukkan ke kamus besar bahasa Indonesia, atau kamus istilah di dunia pergadgetan, ato mungkin juga masuk ke kamus bahasa gaul a la Debbie Sahertian … hahahahaha … All we can do is being able to adjust or don’t take it personally. Sapa tau kalau kita bisa come up dengan a better expression dan kita gunakan sesering mungkin, perhaps those inappropriate expressions bakal tergantikan. Who knows?

Anyway, enjoykanlah the long holidays!!!


- posted from my mobile device® -

0 comments: